Dampak kebocoran data kartu SIM dan NIK dapat memicu SMS spam dan telepon palsu

  • Share

Diduga kasus kebocoran data kartu SIM yang terjadi telah menyebabkan peningkatan spam SMS, panggilan palsu, teror dan berbagai gangguan kepada pengguna.

Dampak kebocoran data kartu SIM dan NIK dapat memicu SMS spam dan telepon palsu

Seperti dilansir Suara.com, Pakar Keamanan Siber Vaccicom Alfons Tanujaya, hal ini dapat berdampak pada peningkatan spam SMS, panggilan telepon palsu, teror dari penagih utang, peminjam dan telemarketer, meskipun nomor telepon telah diubah.
Baca juga

Dampak-kebocoran-data-kartu-SIM-dan-NIK-dapat-memicu-SMS-spam-dan-telepon-palsu

Ups, Samsung akui ada kebocoran data
TikTok Bantah Bocoran Data Pengguna Diduga Masih Aman Dari Peretas
Fakta mengejutkan di balik validasi 1,3 miliar kebocoran data kartu SIM
Sampel Penelitian, Pakar Keamanan Siber Buktikan Kebocoran Data Kartu SIM yang Valid

Kesimpulan pakar keamanan siber diambil dari sampel data peretas yang menunjukkan nomor identifikasi populasi dapat digunakan untuk mendaftarkan nomor SIM baru.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa NIK dapat digunakan untuk nomor dari operator seluler

seperti Smartfren, Indosat, dan Telkomsel.

Tercatat, satu NIK dapat digunakan untuk mendaftarkan 91 nomor SIM Smartfren, satu NIK untuk mendaftarkan 1.287 nomor baru Indosat dan satu NIK untuk mendaftarkan 1.368 kartu SIM Telkomsel.

“Secara tidak langsung, praktik half-blindfolding oleh semua operator seluler mendukung kegiatan kriminal,” kata Alfons dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2022).

“Dan yang mengkhawatirkan, hal ini diabaikan oleh regulator yang ketika data registrasi kartu SIM bocor, berlomba-lomba lepas kendali dan menyalahkan masyarakat karena tidak menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) mereka dengan benar,” lanjutnya. .
Didukung oleh GliaStudio
Ilustrasi kartu SIM. (pixabay)

Ditegaskannya, adanya kebocoran data ini ternyata mempermalukan praktik operator

dan inkompetensi regulator. Sehingga masyarakat menjadi korban penyalahgunaan kartu prabayar.

“Secara tidak langsung, para peretas yang berhasil mengkopi data hingga 87 GB, meski tindakannya melanggar hukum, membuka praktik yang kurang terpuji oleh operator seluler,” tuduh Alfons.

Alfons berharap hilangnya data 1,3 miliar nomor telepon dapat menjadi penilaian bagi instansi pemerintah untuk lebih serius menangani data masyarakat.

“Mereka tidak hanya ingin menikmati manfaat tata kelola data, tetapi mereka juga tidak ingin memenuhi kewajiban privasi,” katanya.

“Jika data tidak dijaga dan bocor, maka yang terjadi adalah malapetaka bagi pemilik data,” lanjutnya.

Selain itu, dia menilai pihak yang paling dirugikan dari kebocoran data adalah pemilik data, bukan pengelola data.

Karena pengelola data hanya malu karena tidak kompeten mengelola data.

Sementara itu, pemilik data justru bisa menjadi korban eksploitasi melalui kebocoran data.

“Berbeda dengan ban atau genteng, saat ditambal, kebocorannya tuntas. Data yang bocor tidak bisa diurungkan, dan begitu data yang bocor ada di internet, data itu ada di internet selamanya,” katanya.

Inilah implikasi dari kebocoran data kartu SIM yang dapat terjadi, menurut pakar keamanan siber di Vaccines

Baca Juga :

https://pdamlebak.co.id

  • Share